WHO Prihatin Korban Racun Ular

|

Sekitar 100.000 kematian terjadi tiap tahun yang disebabkan oleh racun ular Kondisi ini membuat badan kesehatan dunia (WHO) cemas. Karena dampaknya yang besar, WHO meluncurkan situs racun ular agar bisa mengurangi angka kematian.


Melalui situs ini WHO berharap dapat membantu mengurangi angka kematian tersebut. Situs ini berisi database antivenoms yang sudah disetujui untuk mengobati 2,5 juta orang yang menderita gigitan ular berbisa setiap tahunnya.

Antivenom yang digunakan untuk mengobati gigitan ular berbisa ini dikembangkan dari racun ular tersebut sehingga dapat mencegah kecacatan atau kematian.

Namun WHO mengungkapkan bahwa selama ini banyak masyarakat yang tidak menggunakannya dengan tepat, sehingga memicu ketidakpercayaan antara dokter dan pasiennya. Kondisi ini khususnya terjadi di negara-negara tropis dan subtropis.

"Daerah-daerah yang paling membutuhkan adalah negara di Sub-Sahara Afrika, Asia Tenggara dan Asia Selatan," ujar Ana Padilla, seorang ahli racun ular dari WHO, seperti dikutip dari AP, Kamis (6/5/2010).

Padilla menambahkan selain negara Afrika Selatan, Nigeria, Ghana, Kenya dan Tanzania, kebanyakan negara di Sub-Sahara Afrika tidak memiliki laboratorium yang diperlukan untuk mengidentifikasi racun ular dan menghasilkan jumlah antivenom yang cukup.

Sedangkan untuk negara di Asia yang memiliki kebutuhan terbesar berada di Kamboja, Nepal, Bangladesh dan Laos.

"Kebanyakan kematian dan konsekuensi serius dari gigitan ular berbisa adalah mengakibatkan kelumpuhan atau harus menjalani operasi amputasi. Dan kondisi ini sebenarnya bisa dicegah jika antivenom diberikan pada waktu yang tepat," ujar dr Lembit Rago, koordinator keamanan obat WHO.

Dilansir dari WHO.int gigitan dari ular berbisa ini dapat menyebabkan kelumpuhan parah yang mengakibatkan orang tersebut sulit bernapas, mengalami gangguan perdarahan yang dapat menyebabkan perdarahan fatal, kegagalan ginjal yang tidak bisa diperbaiki serta kerusakan jaringan lokal yang parah sehingga memicu terjadinya kelumpuhan permanen atau proses amputasi.

Immunoglobulin antivenom ular (antivenom) adalah perawatan yang spesifik untuk mengobati bis ayang meracuni dari gigitan ular tersebut.

Antivenom yang diberikan bisa mencegah atau membalikkan sebagian besar efek racun dari gigitan ular tersebut, serta memainkan peran penting dalam meminimalkan dampak mortalitas dan morbiditas.

Saat ini ada kebutuhan yang mendesak untuk memastikan bahwa ketersediaan cukup aman, antivenom bekerja efektif dan mudah terjangkau, khususnya di negara-negara berkembang. Selain itu juga harus meningkatkan kontrol regulasi atas pembuatan, impor barang dan penjualan antivenom itu sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar